Logoterapi Frankl ini sering disebut sebagai The Third Viennese School of Psychotherapy. Sebuah penghormatan kepada Frankl oleh karena ia berhasil membangun sebuah psikoterapi yang mapan setelah Psikoanalisa dari Sigmund Freud dan Psikologi Individual dari Alfred Adler.
Logoterapi (Logotherapy) berasal dari kata logos dan therapy. Logos (λόγος) merupakan kata dari bahasa Yunani yang dapat diterjemahkan sebagai “makna”. Kata terapi mengarah kepada perawatan untuk gangguan dan penyimpangan. Logoterapi memfokuskan diri pada arti dari eksistensi manusia juga pada pencarian manusia akan sebuah makna. Kepercayaan dasar atau asas dalam Logoterapi Frankl adalah :
1. Hidup mempunyai makna dalam situasi dan kondisi apapun, bahkan dalam situasi paling menyengsarakan sekalipun.
2. Motivasi utama manusia untuk hidup adalah untuk menemukan makna dalam hidupnya.
3. Manusia mempunyai kebebasan untuk menemukan makna hidup dalam hal-hal yang dikerjakannya, dalam setiap pengalamannya, atau setidaknya dalam keputusan yang dibuatnya ketika menghadapi penderitaan yang tak dapat diubahnya.
Logoterapi memandang manusia sebagai kesatuan utuh dari dimensi ragawi, kejiwaan, dan spiritualitas (unitas biopsikospiritual). Dimensi-dimensi ini hanya dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan. Ketiga dimensi tersebut saling berhubungan dan membentuk dinamika dari kehidupan manusia. Pada prinsipnya, dimensi yang lebih tinggi menguasai dimensi yang lebih rendah, maka dimensi kerohanian menguasai dimensi kejiwaan dan biologis. Artinya manusia mempunyai sumber daya rohaniah yang melampaui akal budi untuk memilih dan melakukan yang terbaik bagi dirinya, dan bertanggung jawab penuh atas apa yang sedang diperbuatnya atau yang telah diperbuatnya.
Bastaman merangkumkan bahwa dimensi kerohanian ini merupakan sumber, potensi, kemampuan, dan kualitas khas insani (human qualities) yang mencakup keinginan untuk hidup bermakna, cinta kasih, kebebasan, tangung jawab, rasa humor, dan kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan. Singkatnya, dimensi kerohanian ini merupakan sumber dari kebajikan, keluhuran, dan kemuliaan manusia. Kualitas ini merupakan kualitas yang sudah inheren (built-in) dan terberi (given) dalam diri manusia dan tidak boleh direduksikan pada tataran insting (sub-human) dan tataran hewan (non-human).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar