“Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.”
Kahlil Gibran, “The Prophet” on Children
Saya percaya bahwa tidak ada sesuatu apapun yang diciptakan secara kebetulan, termasuk anak yang tidak diinginkan kehadirannya sekalipun. Saya juga percaya bahwa segala sesuatu diciptakan dengan suatu tujuan, termasuk ketika Tuhan mengijinkan satu sperma membuahi ovum dalam sebuah hubungan seks ilegal dan menjadi janin dalam rahim seorang wanita. Mungkin bagi mereka kehamilan ini, janin ini tidak diinginkan, tapi bagi Tuhan, Dia punya rencana bagi janin tersebut. Setiap kehidupan berasal dari Dia dan tidak ada seorangpun yang bisa memberi kehidupan dan kemudian merampasnya begitu saja. Mungkin kita tidak merencanakan kehamilan tersebut tapi Dia punya rencana.
Seorang anak adalah anugrah, yang tidak bisa dibeli dengan apapun dan sepenuhnya bergantung pada Pemberinya. Anugrah karena kita tidak bisa membayar Tuhan untuk mendapatkannya. Ironisnya, ada banyak sekali pasangan suami istri sah yang berupaya bertahun-tahun untuk bisa punya keturunan, sementara di sisi lain ada banyak orang yang berusaha membunuh janin mereka.
Buat saya, aborsi akibat hubungan gelap adalah killing for the sake of love, membunuh atas nama cinta. Ada begitu banyak orang yang memuja cinta sehingga menghambakan dirinya kepada cinta dan akhirnya mengorbankan jiwa demi cinta. Baik jiwanya sendiri maupun jiwa orang lain. Celakalah jaman kita ini yang penuh dijejali konsep cinta yang keliru. Menuhankan cinta, seolah-olah kita ini tidak bisa hidup jikalau kita tidak mencintai atau yang lebih parah jika tidak dicintai. Oh, come on, hidup ini bukan hanya buat bercinta. Hampir semua sinetron, film, lagu mengerdilkan cinta dan ironisnya menjadikan cinta yang kerdil ini sebagai tuhan. Turning the love to be a god will turns you to slave your self to it. Memang betul kalau God is love, tetapi jangan dibalik Love is god. Ini dua hal yang berbeda.
Memang (to) love can give you pleasures, tetapi jangan kebablasan dibalik pleasures can give you love. Kita ini memang senang berpikir terbalik-balik, dan menyamaratakan dua hal yang berbeda. Kalau sudah begini, dijamin pasti yang diutamakan adalah pleasure-nya dulu, karena kita berpikir more pleasures give more love. (to) love memang sengaja saya bedakan dengan love karena memang (to) love disini mengandung arti sebagai suatu aktivitas atau kata kerja (diri kita sebagai subyek), sedangkan love lebih berkonotasi sebagai kata benda atau objek (yang dihasilkan oleh pleasures sebagai subyek). Yang perlu direnungkan adalah siapa yang memegang kendali? Diri kita atau pleasures?
Pleasure principle sepertinya sudah tidak asing lagi karena itulah yang Herr Sigmund Freud selalu bicarakan, pleasure adalah drive atau dorongan naluri dasar kita. Gawatnya drive ini bisa mendapatkan energi yang lebih besar dari id untuk mengendalikan ego dan superego kita. Kalau sudah begini lupa segala-galanya deh… Sexual drive ini memberikan suatu kenikmatan yang akan diulangi dan dicari terus menerus dan akhirnya bisa memanipulasi superego, yang berperan sebagai moralitas, untuk selalu memenuhi dorongan ini. Inilah sebabnya mengapa nafsu birahi atau libido a.k.a sexual drive bisa memanipulasi cinta untuk memenuhi kebutuhannya. Akibatnya jika sudah hamil, menyesal, cuma bisa bilang waktu itu, c’étaits plus fort que moi, ada sesuatu dalam diri saya yang saat ini lebih kuat daripada saya (ungkapan ini berasal dari Freud sendiri untuk menggambarkan Id).
Kebanyakan aborsi terjadi bukan karena kehamilan tersebut, alasan utama dibalik itu adalah ketidaksiapan orang tersebut dalam menerima perubahan status dirinya dan norma sosial yang masih menghakimi dan menyingkirkan kehamilan diluar nikah. Ketakutan terbesar bukanlah dalam menerima kehamilan tersebut, namun bagaimana menerima tekanan sosial yang diakibatkan kehamilan diluar nikah tersebut. Umumnya faktor inilah yang menjadi pertimbangan utama dalam tindakan aborsi. Betapa status jauh lebih berharga daripada sebuah nyawa. Saya punya pengalaman seorang teman yang akan mengaborsi kandungan pacarnya, namun setelah saya ajak bicara, pelan-pelan dia mulai mengerti akar kecemasan dia dan akhirnya batal melakukan aborsi. Masalah terbesarnya adalah tekanan sosial baik dari pihak keluarga, lingkungan, dan kesiapan ekonomi.
Karenanya marilah kita lebih bertanggung jawab atas anugrah seksualitas yang telah Tuhan berikan.
Manusia diberi kelebihan kemampuan seks yang lebih daripada binatang. Anjing punya musim kawin, kucing punya, gajah juga punya, diluar musimnya mereka tidak bisa kawin. Tetapi manusia? Any time and any where man… Kapan aja dimana aja bisa! Namun demikian hendaklah kebebasan yang Tuhan berikan ini juga harus diingat pertanggungjawabannya. There’s nothing free… seperti pepatah Inggris bilang eat first then pay or pay first then eat… Be responsible for your sexual life!
Bagaimanapun aborsi bisa dicegah dengan bertanggung jawab atas kehidupan seksual kita. Seperti kata Charcot “Mais, dans des cas pareils c’est toujours la chose génitale, toujours… toujours… toujours.” (Dalam kasus semacam itu masalahnya selalu ada pada seksualitas genital, selalu… selalu… selalu.) Sebagai penutup… Be responsible! Dan Charcot berpesan, “Tâchez donc, je vous assure, vous y arriverez!” (Coba saja, saya jamin Anda pasti berhasil!).

1 komentar:
Menurut pendapatku...
Aborsi utamanya terjadi karena manusia masa kini berusaha memisahkan antara seks dan procreation. Pendeknya, ingin menikmati 'pleasure'-nya tetapi tidak ingin menerima konsekwensinya.
So there, saat terjadi sesuatu hal alami yang memang adalah konsekwensi dari perbuatan itu. Timbul keinginan untuk mencari jalan pintas.
Mengutip satu artikel yang pernah aku baca: "Our age is quick to express appreciation for the unitive meaning of the sexual act but has little understanding of the goodness of the procreative meaning of the sexual act. The modern age tends to treat babies as burdens and not as gifts. It tends to treat fertility as some dreadful condition that we need to guard against. We often speak of the “fear of pregnancy” – a very curious phrase. A fear of poverty or nuclear holocaust or tyranny is understandable but why a fear of pregnancy?
We speak about “accidental pregnancies” as if getting pregnant were like getting hit by a car – some terrible accident has happened to us. But the truth is that if a pregnancy results from an act of sexual intercourse, this means that something has gone right with an act of sexual intercourse, not that something has gone wrong."
IMHO, pemakaian kontrasepsi saja (atau dikenal dengan istilah safe seks) tidak akan menyelesaikan masalah. Toh medically proven bahwa kontrasepsi jenis apapun tidak menjamin 100% berhasil. Akan lebih baik jika ditanamkan pengertian bahwa setiap perbuatan memiliki konsekwensi yang harus dijalani.
Jadi pada intinya, "If you’re not ready for babies, you’re not ready for sexual intercourse"
Cheers,
[astrid]
Posting Komentar